Transportasi Indonesia | Kebutuhan energi nasional Indonesia pada tahun 2024 masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri, terutama untuk Bahan Bakar Minyak (BBM). Meski Indonesia memiliki kilang dalam negeri, kapasitas produksi yang terbatas belum mampu memenuhi permintaan domestik yang terus meningkat. Akibatnya, impor BBM menjadi langkah yang tidak terhindarkan.
Data dari Global Trade Tax (GTT) mencatat bahwa Indonesia mengimpor rata-rata 378.500 barel bensin per hari sepanjang tahun 2024. Bahkan pada bulan Desember, volume impor mencapai rekor tertinggi sebesar 475.000 barel per hari, atau naik sekitar 29% dibandingkan November dan 24% lebih tinggi dibandingkan Desember 2023.
Dari jumlah tersebut, Singapura menjadi negara pemasok utama dengan rata-rata sekitar 279.000 barel bensin per hari. Malaysia menyusul di posisi kedua dengan kontribusi sekitar 97.000 barel per hari. Kedua negara ini secara konsisten menjadi mitra dagang utama Indonesia dalam pasokan bahan bakar jadi, terutama jenis bensin.
Selain produk bensin, Indonesia juga mengimpor minyak mentah dalam jumlah besar. Negara utama asal impor minyak mentah Indonesia adalah Arab Saudi dan Nigeria. Impor dari kedua negara ini tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan kilang dalam negeri, tetapi juga untuk menjamin pasokan energi yang stabil dalam negeri.
Untuk LPG, Indonesia mengandalkan pasokan dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Amerika Serikat (AS). Kedua negara ini menjadi pemasok utama LPG yang digunakan oleh rumah tangga dan sektor industri di Indonesia.
Pada awal tahun 2025, Rusia mulai meningkatkan ekspor produk minyak ke Indonesia. Data menunjukkan bahwa Indonesia menerima sekitar 500.000 ton fuel oil dan 50.000 ton naphtha dari Rusia sebagai bagian dari upaya diversifikasi sumber pasokan energi. Langkah ini juga sejalan dengan strategi pemerintah untuk memperluas mitra dagang dan mengurangi ketergantungan pada satu negara.
Meskipun Singapura masih mendominasi sebagai pemasok utama, pemerintah Indonesia mulai mempertimbangkan opsi untuk mengurangi ketergantungan tersebut. Salah satu langkah yang sedang dikaji adalah membuka peluang kerja sama dengan Amerika Serikat untuk memasok bahan bakar secara lebih luas. Rencana ini juga menjadi bagian dari strategi perdagangan bilateral terkait tarif resiprokal dan diversifikasi energi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama dengan BUMN sektor energi terus memantau dan mengevaluasi kebijakan impor ini agar tetap sejalan dengan ketahanan energi nasional dan target transisi menuju energi bersih.