Kemenhub Genjot Integrasi Transportasi, Sasar 10 Kawasan Metropolitan hingga Wilayah Pulau Terluar

Kemenhub Genjot Integrasi Transportasi, Sasar 10 Kawasan Metropolitan hingga Wilayah Pulau Terluar
Dok. Mapid

Transportasimedia.Com| Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus mendorong pengembangan integrasi transportasi nasional sebagai bagian dari upaya menciptakan sistem mobilitas yang efisien, nyaman, dan berkelanjutan. Upaya ini juga ditujukan untuk mendorong peralihan masyarakat dari kendaraan pribadi ke angkutan umum demi menciptakan kota yang lebih ramah dan terhubung.

“Integrasi transportasi bertujuan menciptakan konektivitas antarwilayah dan antar moda secara lancar. Ini berarti efisiensi biaya, ketepatan waktu, kemudahan, dan kenyamanan bagi pengguna,” ujar Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda (Intram) Risal Wasal dikutip Jumat (1/8/2025).

Kemenhub melalui Ditjen Intram telah merancang rencana pengembangan integrasi transportasi dan multimoda untuk periode 2025–2029. Program ini akan menjangkau 10 kawasan metropolitan, 9 wilayah terdepan, terpencil, tertinggal, dan perbatasan (3TP), 5 kawasan sentra produksi pangan (KSPP), serta 10 daerah pariwisata prioritas (DPP). Termasuk di dalamnya pembangunan integrasi fisik di 13 stasiun kereta api dan tiga terminal angkutan darat.

Namun, integrasi transportasi tidak hanya menyasar aspek fisik. Kemenhub juga menargetkan integrasi tarif, operasional, informasi, hingga kebijakan lintas moda dan lintas sektor.

Saat ini, sebanyak 17 layanan angkutan perkotaan di 13 kawasan, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Makassar, telah terintegrasi dengan simpul-simpul stasiun kereta api seperti MRT, LRT, Commuter Line, serta KA antarkota.

Direktur Prasarana Transportasi Jalan, Toni Tauladan, menambahkan bahwa koordinasi erat antara Kemenhub dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam penyelarasan kebijakan dan standar layanan. Salah satu contohnya adalah program “Teman Bus” yang berupaya memberikan layanan terintegrasi dari titik awal hingga titik akhir perjalanan.

Untuk mendukung penguatan integrasi moda darat dan kereta api, Ditjen Perhubungan Darat akan menyediakan data teknis guna mempercepat proses pengambilan kebijakan di Ditjen Intram. Hal ini dinilai krusial karena kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menuntut konektivitas yang menyeluruh dan antar moda.

Dari sisi perkeretaapian, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Arif Anwar menegaskan pentingnya pengembangan integrasi fisik berbasis konsep Transit Oriented Development (TOD). Konsep ini bertujuan menghubungkan stasiun dengan pemukiman, pusat bisnis, jalur pedestrian, dan transportasi umum, serta mendesain stasiun yang inklusif dan ramah pengguna.

“Konsep TOD memungkinkan masyarakat lebih mudah mengakses layanan transportasi umum karena semuanya terhubung dalam satu kawasan. Ini telah diimplementasikan di sejumlah titik seperti kawasan Blok M, Tanah Abang, Stasiun MRT ASEAN, hingga Kawasan Dukuh Atas,” jelas Arif.

Beberapa pengembangan stasiun yang saat ini sedang berjalan meliputi Stasiun Baru Jatake dan Stasiun Tigaraksa, yang diharapkan memperkuat jaringan transportasi terintegrasi dan mendukung mobilitas masyarakat secara luas.
Melalui langkah-langkah strategis ini, Kemenhub berharap integrasi transportasi tidak hanya menciptakan efisiensi perjalanan, tetapi juga mempercepat transformasi sistem transportasi nasional yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Berita Lainnya

Index