Alfi Batam Tingkatkan Peran Batam sebagai Hub Logistik Nasional dan Internasional

Alfi Batam Tingkatkan Peran Batam sebagai Hub Logistik Nasional dan Internasional
Dok Ketua DPC Alfi Batam, Yasser Hadeka Daniel

Transportasimedia.Com| Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (Alfi) Batam menegaskan komitmennya untuk memperkuat posisi Batam sebagai pusat logistik udara dan laut.

Ketua DPC Alfi Batam, Yasser Hadeka Daniel mengungkapkan visi ini lahir dari kebutuhan untuk mengurangi ketergantungan pada Singapura dan menjadikan Batam sebagai hub distribusi barang untuk seluruh Indonesia dan kawasan regional.

“Selama ini kita masih mengirim barang ke Singapura untuk transit. Ke depan, harapan kami Batam bisa berdiri sendiri sebagai hub, baik untuk kapal laut maupun udara,” ujar Yasser kepada Transportasimedia, Sabtu (13/9/2025).

Yasser menuturkan, kinerja logistik Batam sebenarnya menunjukkan tren positif. Data kuartal I tahun 2025 mencatat volume kontainer meningkat 20%. Namun, pertumbuhan ini juga menimbulkan masalah baru.

Di sektor swasta, keterbatasan armada truk pengangkut kontainer menjadi hambatan serius. Banyak perusahaan forwarder kewalahan memenuhi lonjakan permintaan sehingga terjadi overload. Selain itu, kapasitas depo kontainer di Batam sudah mencapai 80–90%, menimbulkan kesulitan dalam penempatan peti kemas.

Dari sisi pemerintah, tantangan utama terletak pada regulasi Bea Cukai di kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone/FTZ) yang dinilai masih kurang fleksibel. Hal ini khususnya menghambat sektor kargo udara. Padahal, Bandara Internasional Hang Nadim Batam sudah memiliki infrastruktur memadai untuk penerbangan global, tetapi volume kargonya belum berbanding lurus dengan kapasitas yang tersedia.

*Transformasi Pelabuhan Batu Ampar*

Terlepas dari kendala, perkembangan di sektor laut dinilai menggembirakan. Pelabuhan Batu Ampar kini dalam proses transformasi dari multi-operator menjadi single operator yang dikelola oleh BTP (Batam Terminal Peti Kemas).

Per Juni 2025, BTP menambah 4 unit STS crane (sehingga total menjadi 5 unit) dan 10 unit RTG untuk mempercepat bongkar muat. Selain itu, semakin banyak kapal direct call berlabuh langsung di Batam, mulai dari SITC, Supergreen, PostCO, hingga High dan FATCO, yang membuka rute dari China, Myanmar, Vietnam, dan Kuala Lumpur.

Dengan penambahan infrastruktur ini, target volume Batu Ampar sebesar 900 ribu TEUs pada akhir 2025 diprediksi bisa tercapai hingga 80%.

“Dengan fasilitas baru dan masuknya kapal direct call, Batu Ampar kini siap bersaing dengan pelabuhan internasional di kawasan Cijori (Singapura, Johor, dan Riau),” jelas Yeser.

*Peran Alfi Batam dan Hubungan dengan Pemerintah*

Yasser menegaskan bahwa Alfi Batam tidak hanya menyampaikan isu, tetapi juga mengkaji solusi yang bisa diajukan kepada pemerintah. Saat ini, pihaknya tengah mengumpulkan data untuk diajukan ke Bea Cukai dan terus berkoordinasi dengan BP Batam, Bandara Internasional Batam, dan BTP.

Meski belum ada kerja sama resmi, Alfi mendorong agar ke depan ada sinergi dalam program strategis, termasuk rencana penerbitan pas pelabuhan di Batu Ampar yang direkomendasikan oleh Alfi Batam. Selain itu, komunikasi intensif dengan BP Batam terus dijaga.

“Setiap ada isu, BP Batam selalu memanggil kami untuk memberikan masukan solusi. Sejauh ini, hubungan kami dengan pemerintah terjalin sangat baik,” katanya.

Yasser optimistis bahwa dengan dukungan infrastruktur, regulasi yang lebih ramah logistik, serta stabilitas politik dan keamanan Batam, mimpi menjadikan Batam sebagai benchmark logistik nasional bisa terwujud.

“Batam sudah saatnya berdiri sendiri, bukan berarti kita sepenuhnya lepas dari Singapura, tapi komposisi ketergantungan itu bisa diperkecil. Kami ingin Batam menjadi hub logistik yang mampu bersaing di tingkat internasional,” pungkasnya.

Berita Lainnya

Index