Transportasi Indonesia | PT Pertamina (Persero) memproyeksikan tahun 2026 sebagai periode yang penuh tekanan bagi kinerja keuangannya. Situasi ini terutama dipengaruhi oleh tren pelemahan harga minyak mentah dunia yang terjadi akibat kelebihan pasokan di pasar global.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menjelaskan bahwa harga minyak mentah global diperkirakan masih akan melemah dalam beberapa waktu ke depan, memberikan tekanan langsung terhadap profitabilitas perusahaan. Menurutnya, penurunan harga tersebut telah berlangsung sejak awal konflik Rusia–Ukraina.
“Tentu ini sangat mempengaruhi keekonomian dan profitabilitas dari Pertamina, dan menurut beberapa konsultan, perkiraannya tahun depan itu akan terus turun hingga di angka 59 hingga 60 USD per barel,” kata Oki dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI, dikutip Selasa (28/10/2025).
Oki menjelaskan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan pelemahan harga minyak mentah. Pertama, meningkatnya pasokan dari negara-negara anggota OPEC+ maupun produsen non-OPEC. Kedua, melemahnya permintaan global akibat perlambatan ekonomi, terutama di Tiongkok. Selain itu, ketidakstabilan geopolitik di berbagai kawasan turut memperburuk kondisi pasar energi dunia.
“Dan, sebagaimana kita ketahui, harga minyak mentah ini sangat berpengaruh kepada bisnis hulu di Pertamina dan juga di Indonesia,” ujarnya.
Tekanan tersebut, lanjut Oki, tidak hanya dirasakan di sektor hulu, tetapi juga berdampak pada industri pengolahan minyak secara global. Beberapa perusahaan besar di sektor energi, menurutnya, telah menghadapi penurunan nilai aset dan kesulitan menjaga profitabilitas di tengah kondisi pasar yang lesu.
“Kita bisa melihat beberapa perusahaan besar itu mengalami impairment dan juga mengalami kendala dalam mendapatkan profitabilitas,” jelasnya.
Selain tekanan dari sisi hulu, Oki juga menyoroti kelebihan pasokan produk kilang yang menyebabkan margin keuntungan semakin menipis. Kondisi ini membuat jarak harga antara minyak mentah dan produk olahan menjadi sempit, sehingga menurunkan potensi pendapatan bagi perusahaan energi.
“Dengan ini, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Pertamina dan perusahaan energi lainnya, baik itu National Oil Company maupun International Oil Company. Ada banyak kilang dunia yang ditutup di Eropa, di Amerika, di Australia, dan diperkirakan ada 17 kilang yang akan tutup menjelang tahun 2030,” kata Oki.
Melihat dinamika tersebut, Pertamina menilai bahwa tahun 2026 akan menjadi momentum penting untuk memperkuat strategi efisiensi dan diversifikasi bisnis. Langkah ini diharapkan dapat menjaga ketahanan perusahaan di tengah tekanan global yang kian kompleks.