Industri Ban Indonesia Hadapi Tantangan Global, APBI Prediksi Pertumbuhan Produksi Melambat

Industri Ban Indonesia Hadapi Tantangan Global, APBI Prediksi Pertumbuhan Produksi Melambat
Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) memprediksi pertumbuhan produksi dan penjualan ban tahun ini terhambat oleh daya beli melemah dan perang dagang global.

Transportasi Media - Pelaku industri memprediksi bahwa produksi dan penjualan ban nasional masih memiliki potensi pertumbuhan, namun tantangan ekonomi global dan pelemahan daya beli masyarakat dapat menjadi penghambat utama.

Berdasarkan data Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) volume produksi dan penjualan ban diproyeksikan meningkat pada tahun ini. Untuk kategori ban mobil, produksi diperkirakan mengalami penurunan sekitar 3 persen (year on year/yoy) dari 68,08 juta unit.

Ketua Umum APBI Aziz Pane menjelaskan bahwa estimasi pertumbuhan tersebut disusun dengan asumsi ekonomi stabil dan daya beli terjaga. Namun, dengan adanya tekanan akibat perang dagang global dan pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor, target pertumbuhan diprediksi sulit tercapai.

“Kalau ekonomi begini ya susah, karena yang bisa bikin daya beli naik adalah pertumbuhan ekonomi. Apalagi sekarang banyak PHK. Di global juga ada dampak perang tarif,” ujar Aziz, kepada transportasimedia.com, di Jakarta, Jumat (7/11/2025).

Aziz juga menyoroti sejumlah persoalan struktural, seperti harga gas industri yang tinggi, minimnya industri petrokimia pendukung, serta pemberlakuan perang tarif ekspor. Kondisi ini dinilai menekan industri ban nasional yang 70% hasil produksinya diserap pasar ekspor, sementara pasar domestik hanya menyumbang 30%.

Dari total ekspor tersebut, 30–40% diserap oleh pasar Amerika Serikat, sedangkan sisanya tersebar ke Eropa dan Afrika. “Ekspor ke Amerika cukup besar, tapi setelah Donald Trump bikin tarif, jadi susah. Kualitas ban Indonesia bagus, tapi membuka pasar baru tidak mudah,” tambahnya.

Aziz juga mengingatkan pemerintah agar waspada terhadap peralihan produk ban dari China, yang berpotensi menekan produsen lokal. Ia berharap pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dapat memperketat pengawasan impor ilegal.

Selain itu, APBI meminta pemerintah mempertimbangkan moratorium pendirian pabrik ban baru guna mencegah kelebihan pasokan (oversupply). Saat ini, Indonesia sudah memiliki sejumlah pabrik multinasional, termasuk tiga pabrik asal China yang akan memproduksi ban untuk segmen pertambangan dan kendaraan berat.

“Kalau ditambah lagi, industri ban bisa oversupply. Jangan sampai nasibnya seperti industri tekstil dan sepatu,” tegas Aziz.

Menurutnya, utilisasi kapasitas produksi baru mencapai 80% dari total kapasitas 250,11 juta unit. Meski demikian, prospek jangka panjang industri ban masih positif, terutama didorong oleh pertumbuhan kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) yang membutuhkan ban dengan karakteristik khusus.

“Konsumsi ban untuk EV bisa lebih tinggi. Balai Penelitian Karet di Bogor sedang meneliti bahan yang lebih tahan gesekan untuk mobil listrik,” jelas Aziz.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal APBI Agus Sarsito menuturkan bahwa industri ban dan produk turunan karet tengah menghadapi situasi sulit sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina yang mengganggu jalur pengiriman global. “Banyak masalah bertumpuk. Kapal tidak bisa lewat Laut Merah, pasar juga sedang lesu,” ujar Agus.

Ia menilai industri karet berpotensi mengikuti jejak keterpurukan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang mengalami banyak PHK sejak 2022. “Lama-lama ban juga bisa seperti tekstil kalau dibiarkan,” imbuhnya. (*)

#APBI

Index

Berita Lainnya

Index