Transportasi Media - Kereta api kembali menjadi sorotan sebagai moda transportasi yang mampu mendukung transisi energi di Indonesia. Ketua Umum Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (Maska), Hermanto Dwiatmoko, menilai bahwa inilah saat yang tepat bagi pemerintah untuk mempercepat pembangunan jalur kereta api nasional, baik untuk angkutan penumpang maupun barang.
Hermanto menjelaskan bahwa kereta api memiliki keunggulan signifikan dibanding moda transportasi lain, antara lain efisiensi, kapasitas angkut besar, bebas polusi saat menggunakan kereta listrik, serta mampu mengurangi kemacetan. Namun, kontribusinya terhadap mobilitas nasional masih rendah.
“Untuk angkutan penumpang, kereta api hanya mencapai 6–7 persen, sementara moda transportasi darat mendominasi hingga 92 persen. Untuk angkutan barang, porsinya bahkan masih di bawah 1 persen,” ujar Hermanto dalam wawancara di Sekretariat Maska, Stasiun Manggarai, Jakarta.
.jpg)
Penggunaan Kereta Api Masih Rendah, Jangkauan Jadi Masalah Utama
Hermanto menegaskan bahwa rendahnya penggunaan kereta api, khususnya di wilayah Jabodetabek yang baru mencapai sekitar 2 persen, dipengaruhi oleh dominasi sepeda motor dan minimnya konektivitas.
Menurutnya, Indonesia perlu mencontoh Jepang yang tingkat penggunaan kereta apinya mencapai 80 persen. “Kereta api lebih murah, lebih mudah, bebas macet, dan tidak perlu mencari parkir,” tambahnya.
Meskipun kualitas pelayanan kereta api nasional sudah cukup baik, jangkauan jaringan dinilai masih menjadi tantangan besar. Saat ini, wilayah yang paling banyak terhubung jalur rel masih didominasi Pulau Jawa.
“Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan masih banyak titik yang belum terhubung. Pemerintah harus memperluas coverage jaringan kereta api, terutama di daerah padat penduduk,” ungkap Hermanto.
.jpg)
Angkutan Barang: Peluang Besar yang Belum Dioptimalkan
Untuk angkutan barang, Hermanto mendorong pembangunan jalur yang terhubung dengan kawasan industri, pabrik, tambang, dan pelabuhan.
Ia menyoroti minimnya penggunaan kereta api untuk logistik di Tanjung Priok karena kalah bersaing dengan truk dalam jarak pendek.
“Bisnis kereta api akan lebih menguntungkan jika jaraknya panjang, bahkan lebih ideal untuk konektivitas antarbenua seperti di China dan Eropa,” jelasnya.
Maska menilai bahwa Indonesia dapat meniru Jepang, negara kepulauan yang sukses membangun konektivitas kereta api lintas pulau.
“Jawa dan Sumatera seharusnya bisa terhubung melalui jalur kereta api. Ini akan meningkatkan efisiensi dan mendukung pembangunan ekonomi nasional,” tegas Hermanto. (*)