Transportasi Indonesia | Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, menjelaskan perkembangan realisasi program pencampuran Biodiesel 40% (B40) dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Gedung Nusantara I, Jakarta, Sabtu (14/11/2025). Dalam forum tersebut, Laode menyampaikan bahwa penyerapan bahan bakar nabati (BBN) jenis FAME hingga 10 November 2025 telah mencapai 12,25 juta kilo liter (kl), atau setara dengan 78,5% dari total alokasi tahun ini.
Laode merinci bahwa pemerintah menetapkan alokasi FAME pada 2025 sebesar 15,6 juta kl. Ia juga menyoroti tren pemanfaatan biodiesel yang terus meningkat dari tahun ke tahun. “Hingga 2024 tercatat 13,14 juta kilo liter pemanfaatan B100 (FAME) oleh Badan Usaha BBM. Sementara pada tahun 2025 ini hingga 10 November 2025 atau hari kemarin pemanfaatan B100 oleh Badan Usaha BBM telah mencapai 12,25 juta kilo liter, sehingga total penyaluran biodiesel sebesar 31,30 juta kilo liter pada tahun ini,” ujar Laode.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan penguatan komitmen berbagai pihak dalam mendukung ketahanan energi berbasis sumber daya dalam negeri. Ia menegaskan bahwa keberhasilan program B40 tidak hanya bergantung pada besaran volume penyerapan, tetapi juga pada kesiapan rantai pasok dan infrastruktur distribusi yang menopang operasionalnya.
Sebagai bagian dari strategi implementasi B40, pemerintah melibatkan 28 badan usaha BBM untuk menyalurkan biodiesel ke pasar domestik. Di sisi lain, 24 badan usaha BBN berperan sebagai produsen dan pemasok FAME ke berbagai wilayah pelayanan. “Pelibatan berbagai badan usaha ini menjadi bagian dari upaya memastikan distribusi berjalan lancar dan merata,” kata Laode.
Untuk mendukung penyebaran pasokan secara nasional, pemerintah telah menetapkan alokasi distribusi FAME melalui 83 titik serah selama 2025. Penyebaran titik serah tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penyaluran biodiesel sekaligus menjaga ketersediaan pasokan di lapangan.
Laode menutup pemaparannya dengan menekankan bahwa realisasi B40 terus bergerak positif, meski masih memerlukan penguatan dalam aspek logistik dan infrastruktur. Program ini, menurutnya, akan tetap menjadi bagian penting dari langkah pemerintah memperluas porsi energi ramah lingkungan di Indonesia.