Transportasi Media - Bencana kembali melanda Sumatra. Hujan deras berkepanjangan memutus akses jalan, merendam jembatan, dan mengisolasi sejumlah wilayah. Dalam kondisi tersebut, para Awak Mobil Tangki (AMT) tetap berupaya menyalurkan BBM ke SPBU dan layanan publik meski tujuh titik jalan terputus dan situasi berubah setiap jam.
Sebagian AMT bahkan harus meninggalkan mobil tangki di lokasi rawan dan berjalan pulang lebih dari 76 kilometer demi keselamatan. Pilihan ini menjadi langkah terakhir ketika risiko longsor dan cuaca ekstrem terus meningkat.
Sementara itu, Elnusa melalui PT Elnusa Petrofin bergerak cepat mengevakuasi AMT yang terjebak, menyalurkan bantuan bagi mereka dan keluarga, serta menyediakan perangkat komunikasi untuk menjaga koordinasi.
Upaya ini memastikan distribusi energi tetap berjalan sehingga masyarakat tetap mendapat akses kebutuhan penting di tengah masa krisis.
Namun bencana memaksa mereka membuat keputusan berat. Sebagian AMT harus meninggalkan mobil tangki di lokasi rawan dan berjalan pulang sejauh lebih dari 76 kilometer demi keselamatan diri.
Langkah panjang ini bukan sekadar perjalanan, tetapi pengorbanan yang lahir dari tanggung jawab. Di antara ribuan petugas, mereka tetap hadir meski risiko longsor susulan, jalan yang terputus, dan cuaca ekstrem mengintai di depan mata.
Sementara itu, Elnusa melalui anak usahanya PT Elnusa Petrofin bergerak cepat. Tim mengevakuasi AMT yang terjebak, menyalurkan bantuan untuk mereka dan keluarga, serta mengirimkan perangkat komunikasi agar koordinasi dan kabar tetap terhubung.
Upaya ini menjadi jembatan harapan ketika sinyal hilang dan kabar tak sampai. Perjuangan mereka mungkin tak selalu terlihat, tetapi dampaknya terasa hingga ke pelosok, masyarakat tetap mendapatkan pasokan energi di saat paling sulit.
Kerja keras ini tampak jelas di Nias. Pada Sabtu, 29 November 2025, Elnusa Petrofin berhasil menyalurkan 40.320 kilogram atau setara 13.440 tabung elpiji 3 kg ke berbagai wilayah terdampak, mulai dari Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat, Kota Gunungsitoli, hingga Nias Induk.
Sehari sebelumnya, pada 28 November 2025, realisasi penyaluran mencapai 35.280 kilogram atau 11.760 tabung elpiji 3 kg. Angka-angka ini bukan sekadar data, melainkan bukti bahwa energi tetap mengalir di tengah keterbatasan, menjadi napas kehidupan bagi masyarakat yang tengah berjuang.
Tak hanya LPG, distribusi BBM juga terus berjalan di tengah keterbatasan. Per 29 November 2025, di Sibolga, tiga unit mobil tangki dikerahkan untuk melayani empat SPBU. Di Lhokseumawe, sebelas unit mobil tangki memastikan pasokan ke sembilan SPBU tetap terjaga.
Sementara di Teluk Kabung, ratusan armada bekerja tanpa henti—sebanyak 197 unit mobil tangki melayani lebih dari 200 SPBU agar energi tetap mengalir.
Di balik angka-angka ini, ada kerja keras yang tak terlihat: koordinasi yang rumit, perjalanan yang penuh risiko, dan tekad untuk tidak membiarkan masyarakat kehilangan akses energi.
Rustam Aji, Corporate Secretary Elnusa, mengungkapkan, “Di tengah bencana, energi bukan hanya soal bahan bakar, tetapi tentang harapan dan keberlangsungan hidup. Setiap tetes BBM yang sampai ke masyarakat adalah bagian dari perjuangan agar roda kehidupan tidak berhenti.”
Ia menambahkan, “Dedikasi para AMT adalah kisah keberanian yang jarang terlihat, namun dampaknya dirasakan oleh jutaan orang. Mereka berjalan jauh, menembus risiko, demi memastikan masyarakat tetap bergerak. Elnusa akan terus hadir, menjaga keselamatan mereka dan memastikan energi tetap mengalir untuk negeri.”
Bencana ini mengajarkan satu hal: dedikasi tidak pernah padam, bahkan ketika jalan terputus dan kabar sulit didapat. Karena bagi mereka, keselamatan bukan sekadar prioritas tetapi ia adalah janji yang harus ditepati. (*)