Transportasi Media - Rencana pengembangan kereta cepat baru Jakarta–Bandung “Kilat Pajajaran” yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dinilai kurang tepat dari sisi permintaan penumpang. Hal itu disampaikan Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, yang menilai pasar penumpang pada rute tersebut telah jenuh di tengah ketatnya persaingan antar moda.
KA Kilat Pajajaran direncanakan memiliki waktu tempuh sekitar 1,5 jam dan digadang-gadang dapat menjadi alternatif mobilitas yang lebih cepat. Meski demikian, Setijadi menilai layanan baru tersebut tidak memiliki prospek permintaan yang memadai.
“Segmentasi pasar penumpang Jakarta–Bandung sudah sangat jenuh. Menambah layanan serupa tidak tepat secara ekonomi maupun dari sisi efisiensi jaringan transportasi,” ujar Setijadi.
Pasar Penumpang Sudah Padat
Saat ini, konektivitas Jakarta–Bandung telah dilayani berbagai moda, seperti KA Argo Parahyangan dengan akses langsung dari pusat kota Jakarta, kereta cepat Whoosh dengan waktu tempuh paling kompetitif, hingga layanan travel dan shuttle yang mendominasi perjalanan point-to-point.
Ditambah lagi, Tol Jakarta–Cikampek II (Japek II) yang diprediksi memangkas waktu tempuh menjadi sekitar 1,5 jam akan semakin menarik pengguna kendaraan pribadi serta memperketat persaingan layanan travel.
Setijadi menilai tambahan layanan seperti KA Kilat Pajajaran berisiko membebani KAI tanpa memberi nilai tambah signifikan. Apalagi, KAI secara tidak langsung juga menjadi pemegang saham terbesar KCIC, operator kereta cepat Whoosh.
“Akan terjadi kompetisi tiga layanan serupa—KA Parahyangan, Whoosh, dan Kilat Pajajaran—yang semuanya pada akhirnya berada di bawah KAI,” tegasnya.
SCI Usulkan Penguatan Logistik Jawa Barat
SCI justru mendorong agar rencana tersebut dialihkan ke pengembangan logistik berbasis kereta api. Menurut Setijadi, Jawa Barat adalah basis industri manufaktur terbesar di Indonesia, mencakup sektor otomotif, elektronik, tekstil, pangan, hingga kimia, sehingga membutuhkan dukungan sistem logistik yang cepat dan terintegrasi.
Pada 2024, Jawa Barat tercatat memiliki 8.239 perusahaan manufaktur menengah-besar dan 38 kawasan industri, sehingga membutuhkan infrastruktur logistik yang lebih efisien.
Pengembangan Container Yard KAI
SCI menilai ada potensi besar pada pengembangan container yard (CY) milik KAI di Cikarang, Klari, Cibungur, dan Bandung. Lokasi-lokasi tersebut dinilai strategis menjadi pintu ekspor-impor untuk wilayah masing-masing sehingga arus barang tidak harus terpusat di Pelabuhan Tanjung Priok.
Hasil analisis SCI menunjukkan distribusi ekspor dari Tanjung Priok didominasi wilayah industri seperti: Bekasi (32%), Karawang (29%), Purwakarta (8%), Bandung (6%), Tangerang (14%), Bogor (4%), dan Cilegon dan Serang (8%).
Adapun tujuan impor terbanyak berasal dari: Karawang (36%), Bekasi (23%), Purwakarta (9%), Bandung (6%), Tangerang (14%), Bogor (4%), dan Cilegon dan Serang (3%).
Setijadi menegaskan pengembangan jaringan logistik berbasis rel akan menekan biaya logistik, meningkatkan daya saing industri, mengurangi kemacetan jalan, serta membantu mengurangi praktik overdimension and overload (ODOL). (*)