Penghematan energi hingga 70 persen membuat truk listrik mulai menarik minat pelaku industri, meski infrastruktur listrik masih menjadi tantangan utama.
Transportasi Media – Transformasi kendaraan listrik kini mulai merambah sektor kendaraan niaga berat. Jika sebelumnya elektrifikasi identik dengan mobil penumpang, kini truk listrik mulai menarik perhatian industri logistik dan pertambangan.
Salah satu perusahaan yang aktif mendorong perubahan ini adalah PT Gaya Makmur Mobil (GMM), distributor truk FAW Trucks dan XCMG di Indonesia. Perusahaan tersebut kini mulai memasarkan truk listrik sebagai bagian dari strategi mengikuti perkembangan teknologi transportasi global.
President Director PT Gaya Makmur Mobil, Frankie Makaminang, mengatakan bahwa langkah perusahaan masuk ke segmen kendaraan listrik tidak terlepas dari kebutuhan industri terhadap efisiensi operasional yang lebih tinggi.
“Kalau dibandingkan dengan truk diesel, penghematan energi bisa mencapai sekitar 70 persen karena sekarang menggunakan listrik. Selain itu biaya perawatan juga bisa turun sekitar 20 persen karena tidak ada lagi mesin pembakaran yang harus dirawat,” ujarnya saat ditemui Transportasi media baru-baru ini.
Berawal dari Bisnis Truk Bekas
Perjalanan bisnis Gaya Makmur Mobil sebenarnya telah dimulai sejak awal 1980-an. Pemilik perusahaan memulai usaha pada 1983 di Medan dengan bisnis perdagangan truk dan alat berat bekas.
Setelah krisis ekonomi 1998, bisnis tersebut kemudian dipindahkan ke Jakarta pada 1999. Dari sana perusahaan mulai berkembang hingga akhirnya pada 2005 memutuskan masuk ke bisnis distribusi truk dan alat berat baru.
Dalam ekspansi tersebut, GMM memilih bekerja sama dengan produsen kendaraan asal Tiongkok, yakni FAW Trucks untuk truk dan XCMG untuk alat berat.
Menariknya, selama lebih dari dua dekade perusahaan tetap konsisten memegang dua merek tersebut tanpa pernah berganti. “Sudah 21 tahun kami tetap memegang dua brand yang sama. Konsistensi ini penting agar pelanggan tidak bingung ketika membutuhkan spare part atau layanan servis,” kata Frankie.
Seiring pertumbuhan bisnis, GMM juga membangun jaringan layanan yang luas. Saat ini perusahaan memiliki 21 cabang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Papua.
Selain cabang utama, perusahaan juga membangun service center dan part shop di kota-kota kecil yang dekat dengan lokasi operasi pelanggan seperti tambang, perkebunan, atau proyek infrastruktur.
Strategi ini memungkinkan perusahaan memberikan layanan cepat jika terjadi kerusakan kendaraan di lapangan. “Kami berusaha agar ketika ada truk yang mengalami masalah, mekanik bisa sampai ke lokasi maksimal dua jam,” ujarnya.
Truk Listrik Mulai Beroperasi
Di tengah perkembangan teknologi kendaraan listrik, GMM juga mulai memperkenalkan truk listrik untuk sektor industri. Beberapa unit bahkan sudah beroperasi di lokasi tambang di Kalimantan. Truk listrik tersebut mampu mengangkut batu bara dengan kapasitas hingga 50 ton, sementara model tractor head dapat menarik trailer dengan muatan hingga 85 ton.
Menurut Frankie, respon industri terhadap kendaraan listrik sebenarnya sangat positif, terutama karena potensi penghematan biaya operasional yang cukup besar. Namun penggunaan EV masih lebih banyak dilakukan di sektor tambang karena pola operasinya relatif tetap dan berada di area tertentu.
Sebagai bagian dari penguatan industri otomotif nasional, GMM juga mulai merintis perakitan truk di dalam negeri melalui perusahaan manufaktur yang berlokasi di Bogor. Fasilitas tersebut saat ini sudah memulai proses perakitan truk FAW secara Completely Knock Down (CKD) dengan produksi awal model 4x4.
Ke depan, perusahaan juga berencana merakit model lain termasuk kendaraan listrik. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat kandungan lokal sekaligus membuka lapangan kerja baru di sektor industri otomotif.
Target Penjualan
Untuk tahun ini, GMM menargetkan penjualan sekitar 3.000 unit truk di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 300 unit ditargetkan berasal dari segmen kendaraan listrik. Meski porsinya masih sekitar 10 persen, angka tersebut menunjukkan bahwa minat industri terhadap kendaraan listrik mulai tumbuh.
Meski potensinya besar, adopsi truk listrik masih menghadapi kendala utama, yakni ketersediaan infrastruktur listrik. Berbeda dengan mobil listrik penumpang, truk listrik membutuhkan kapasitas daya yang jauh lebih besar untuk proses pengisian baterai. “Truk listrik membutuhkan daya yang sangat besar. Jadi yang menjadi tantangan bukan hanya charger-nya, tetapi juga kesiapan gardu listrik dari PLN di lokasi operasi,” kata Frankie.
Selain itu, teknologi baterai saat ini juga masih membuat kendaraan listrik kurang efisien untuk perjalanan jarak jauh. Namun Frankie optimistis kondisi tersebut akan membaik seiring perkembangan teknologi dan pembangunan infrastruktur pengisian listrik di masa depan. “Kalau infrastrukturnya sudah siap, banyak perusahaan yang ingin beralih ke kendaraan listrik karena penghematannya memang signifikan,” ujarnya.
Dengan perkembangan tersebut, kendaraan listrik diperkirakan akan menjadi bagian penting dari transformasi industri transportasi berat di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi Customer Care GMM Care di nomor 1-500-329 atau mengunjungi situs resmi www.gmmobil.com. (*)