Jakarta Kian Macet, Ini Penyebabnya!

Kamis, 16 April 2026 | 13:43:44 WIB
Dok Istimewa

Transportasimedia.com| Kemacetan masih menjadi persoalan klasik yang membayangi wajah Jakarta. Setiap pagi, ibu kota tidak hanya menampung aktivitas warganya sendiri, tetapi juga dibanjiri jutaan komuter dari wilayah penyangga. Kondisi ini membuat tekanan terhadap sistem transportasi semakin berat dari hari ke hari.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan, sedikitnya 4 juta hingga 4,5 juta orang masuk ke Jakarta setiap pagi untuk bekerja dan beraktivitas. Mereka kemudian kembali ke daerah asal pada sore hari, menciptakan arus mobilitas harian yang sangat besar.

“Jakarta ini setiap pagi ada kurang lebih empat juta sampai empat setengah juta orang masuk ke Jakarta. Sore kembali ke kediamannya masing-masing. Itulah problem transportasi yang dihadapi oleh Jakarta,” ujar Pramono di Balai Kota, Kamis (16/4/2026).

Tingginya mobilitas ini sejalan dengan data Kementerian Perhubungan yang mencatat sekitar 88 juta pergerakan orang per hari di kawasan Jabodetabek. Dari jumlah tersebut, sekitar 3–4 juta merupakan komuter yang setiap hari menuju Jakarta. Lonjakan arus ini menjadi salah satu penyebab utama kepadatan lalu lintas di berbagai ruas jalan ibu kota.

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik menunjukkan total perjalanan masyarakat di Jakarta mencapai sekitar 20 juta per hari. Namun ironisnya, hanya 20–25 persen yang menggunakan transportasi umum. Artinya, mayoritas masyarakat masih bergantung pada kendaraan pribadi, yang secara langsung memperparah kemacetan.

Beban transportasi publik sendiri sebenarnya sudah cukup tinggi. Layanan TransJakarta melayani hingga 1–1,2 juta penumpang per hari. Sementara MRT Jakarta mencatat 100 ribu hingga 130 ribu pengguna harian, dan LRT Jakarta melayani puluhan ribu penumpang. Moda berbasis rel seperti KRL Commuter Line juga mengangkut sekitar 700 ribu hingga 800 ribu penumpang setiap hari, sebagian besar berasal dari Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang.

Meski demikian, kapasitas dan jangkauan transportasi umum dinilai belum mampu mengimbangi tingginya arus komuter. Ketimpangan antara kebutuhan mobilitas dan ketersediaan layanan ini menjadi akar persoalan kemacetan yang sulit diurai.

Pramono menilai solusi jangka panjang harus difokuskan pada pembangunan ekosistem transportasi berbasis transit yang terintegrasi. Konsep ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi sekaligus meningkatkan efisiensi mobilitas di kawasan perkotaan.

Selain pembenahan transportasi, pemerintah juga mendorong pengembangan wilayah berbasis keunggulan masing-masing untuk mengurangi ketimpangan pusat aktivitas. Dengan demikian, pergerakan masyarakat tidak lagi terpusat di Jakarta, melainkan tersebar ke berbagai kawasan penyangga.

“Penciptaan ekosistem mobilitas dan konektivitas masyarakat berbasis transit Jakarta,” kata Pramono.

Ia optimistis, jika pembenahan dilakukan secara konsisten sejak sekarang, Jakarta dapat keluar dari jerat kemacetan kronis yang selama ini menjadi tantangan utama kota metropolitan tersebut.

Tags

Terkini