Ketika Proyek Kilang Pertamina Menjadi Harapan Baru UMKM Balikpapan

Jumat, 16 Januari 2026 | 18:18:58 WIB
Proyek Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina di Kilang Balikpapan mendorong lapangan kerja, menggerakkan UMKM lokal, dan memperkuat ekonomi Kalimantan Timur. (Dok. Pertamina)

Pembangunan Proyek Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina di Kilang Balikpapan tak hanya memperkuat pasokan energi, tetapi juga menggerakkan UMKM dan ekonomi lokal.

Transportasi Media - Setiap menjelang waktu makan siang, aroma masakan rumahan menyeruak dari sebuah warung sederhana di sekitar kawasan Kilang Pertamina Balikpapan. Di balik kesibukan dapur kecil itu, Yanti—pemilik warung—menyambut para pelanggan dengan senyum hangat. Sebagian besar dari mereka adalah pekerja proyek Infrastruktur Energi Terintegrasi yang tengah dibangun PT Pertamina (Persero) di Kalimantan Timur.

Bagi Yanti, kehadiran proyek kilang bukan sekadar deretan pipa, tangki, dan mesin berukuran raksasa. Proyek itu adalah denyut kehidupan baru bagi usahanya. Seiring meningkatnya aktivitas pembangunan, jumlah pelanggan bertambah dan perputaran uang pun semakin terasa.

“Alhamdulillah, kita bersyukur. Untuk sehari-hari perputaran ada. Mudah-mudahan pekerja Pertamina, Pertamina Hulu Mahakam, dan yang makan siang tetap bisa datang ke warung sekitar sini walau proses pembangunan telah selesai,” ujar Yanti penuh harap.

Cerita serupa datang dari Tuti, pemilik Warung Kube Mandiri di kawasan Mekar Sari. Jam makan siang kini menjadi waktu paling sibuk sejak proyek kilang berjalan. Kursi kerap penuh, dan dapur tak pernah benar-benar sepi.

“Makan siang ramai sekali, kadang tempat duduknya juga kurang. Lumayan sekali ada proyek itu dan sangat membantu. Harapannya proyek bisa terus berjalan sehingga yang makan semakin banyak,” tuturnya.

Kisah Yanti dan Tuti menjadi potret nyata bagaimana pembangunan Proyek Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina di Kilang Balikpapan memberikan dampak langsung bagi ekonomi masyarakat sekitar. Proyek strategis nasional ini tidak hanya dirancang untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi yang terasa hingga ke level usaha mikro dan kecil.

Secara infrastruktur, proyek ini mencakup pembangunan Pipa Gas Senipah, tangki penyimpanan besar di Lawe-lawe, Crude Distillation Unit (CDU), Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex, hingga Terminal BBM Tanjung Batu. Rangkaian fasilitas dari hulu hingga hilir tersebut diproyeksikan menjadi tulang punggung distribusi energi di kawasan Indonesia Timur.

Namun di balik skala megahnya, proyek ini juga membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menjelaskan bahwa pembangunan kilang turut menciptakan peluang kerja dan usaha bagi masyarakat sekitar.

Pada tahap konstruksi, proyek ini telah menyerap sekitar 24 ribu tenaga kerja, mayoritas berasal dari dalam negeri. Sementara pada fase operasional, kilang diperkirakan akan melibatkan sekitar 2.000 tenaga kerja secara langsung, belum termasuk efek berganda berupa peluang usaha tidak langsung di sektor pendukung.

“Proyek yang dibangun dan dikembangkan Pertamina tidak hanya berfokus pada penguatan ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan multiplier effect yang nyata bagi masyarakat,” kata Baron.

Manfaat ekonomi juga mengalir melalui keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok proyek, mulai dari jasa pendukung, logistik, hingga kebutuhan konsumsi selama masa konstruksi dan operasional. Pertamina pun menjaga realisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di kisaran 35 persen sebagai bentuk dukungan terhadap industri nasional.

Di Balikpapan, proyek kilang bukan hanya tentang energi dan industri. Ia hadir sebagai cerita tentang harapan, tentang warung kecil yang semakin ramai, dan tentang bagaimana pembangunan besar dapat menyentuh kehidupan masyarakat secara nyata. Dari kilang hingga warung, energi yang dihadirkan Pertamina mengalir bersama pertumbuhan ekonomi lokal. (*)

 

Tags

Terkini