Transportasimedia.com| Penjualan kendaraan roda empat PT Astra International Tbk (ASII) mengalami tekanan signifikan pada Maret 2026. Berdasarkan data industri, penjualan Astra di pasar domestik tercatat sebesar 28.666 unit, turun tajam dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 38.080 unit.
Secara tahunan, angka tersebut juga merosot dari capaian Maret 2025 yang berada di level 37.735 unit, mencerminkan perlambatan permintaan di tengah dinamika pasar otomotif nasional.
Kontraksi penjualan terjadi di hampir seluruh lini merek yang berada di bawah naungan Astra. Kontribusi terbesar masih berasal dari Toyota dan Lexus, namun penjualannya turun menjadi 18.021 unit dari 22.622 unit pada bulan sebelumnya. Penurunan juga dialami Daihatsu yang mencatat 8.916 unit, menyusut dari 13.452 unit pada Februari 2026. Sementara itu, Isuzu membukukan 1.657 unit, dan kendaraan niaga UD Trucks hanya menyumbang 72 unit sepanjang Maret.
Di tengah pelemahan tersebut, segmen mobil murah ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) tetap menjadi penopang utama penjualan Astra. Perusahaan mencatat penjualan LCGC sebanyak 5.325 unit pada Maret 2026, meski turun dari 8.316 unit pada Februari.
Menariknya, di tengah penurunan volume, pangsa pasar LCGC Astra justru meningkat menjadi 79 persen, menegaskan dominasi perseroan di segmen kendaraan terjangkau masih sangat kuat.
Namun, tekanan kompetisi kian terasa. Sejumlah pemain non-Astra seperti Mitsubishi Motors, Honda, dan Suzuki terus memperkuat penetrasi pasar. Di saat yang sama, produsen kendaraan listrik asal Tiongkok seperti BYD dan Wuling Motors semakin agresif menawarkan produk berbasis teknologi baru dengan harga kompetitif.
Kondisi ini mencerminkan perubahan lanskap industri otomotif nasional yang semakin dinamis. Meski Astra masih unggul di segmen LCGC, penurunan penjualan secara keseluruhan menjadi sinyal bahwa persaingan semakin ketat dan preferensi konsumen mulai bergeser, terutama ke arah kendaraan yang lebih efisien dan berbasis energi baru.
