Transportasimedia.com| Gangguan listrik yang melanda sejumlah wilayah di Jakarta tak hanya memadamkan lampu, tetapi juga mengungkap kerentanan serius pada sistem transportasi modern ibu kota. Insiden ini berdampak langsung pada layanan publik yang sangat bergantung pada pasokan energi listrik, termasuk operasional MRT Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menyoroti pentingnya keandalan listrik setelah kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa meski pemadaman menjadi kewenangan PLN, dampaknya meluas hingga sektor transportasi seperti MRT dan LRT.
“Pemadaman ini sepenuhnya menjadi kewenangan PLN, tapi dampaknya kepada kami, salah satunya MRT dan LRT juga terkena. Tentunya kami mengharapkan ini jangan terulang kembali,” ujar Pramono, dikutip Sabtu (11/4/2026).
Menurutnya, listrik kini menjadi kebutuhan vital yang tak tergantikan dalam aktivitas masyarakat perkotaan. Ketergantungan tinggi terhadap energi membuat gangguan sekecil apa pun dapat memicu dampak berantai yang signifikan.
Pemadaman listrik dilaporkan terjadi di sejumlah titik, termasuk kawasan Angke dan sekitarnya pada Kamis (9/4/2026), yang sempat mengganggu aktivitas warga. Pihak PLN menyebut gangguan bersumber dari sistem di beberapa gardu induk, sehingga aliran listrik terhenti sementara di wilayah terdampak.
Sebagai respons, PLN langsung menurunkan petugas untuk melakukan penanganan di lapangan. Proses pemulihan dilakukan secara bertahap guna memastikan sistem kembali stabil sebelum dialirkan kembali ke pelanggan.
Dampak paling terasa terjadi pada sektor transportasi publik. Operasional MRT Jakarta sempat terganggu akibat pasokan listrik yang tidak stabil. Sejumlah fasilitas penting di stasiun ikut terdampak, mulai dari penerangan hingga sarana penunjang mobilitas penumpang.
Kepala Divisi Corporate Secretary MRT Jakarta, Rendy Primartantyo, menjelaskan bahwa gangguan terjadi sekitar pukul 17.57 WIB. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian fasilitas seperti elevator, eskalator, dan sistem pendukung lainnya tidak berfungsi optimal.
“Gangguan operasional ini disebabkan oleh kendala pasokan listrik dari sisi PLN yang mengakibatkan sebagian fasilitas stasiun mengalami gangguan,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh stasiun layang sempat mengalami pemadaman total sebelum akhirnya berhasil dinormalkan kembali melalui koordinasi lintas pihak.
Setelah gangguan teratasi, layanan MRT berangsur pulih dan kembali beroperasi. Namun, insiden ini menjadi peringatan bahwa sistem transportasi modern di perkotaan sangat bergantung pada stabilitas pasokan listrik, sehingga penguatan infrastruktur energi menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah gangguan serupa di masa depan.