Profesor STIK PTIK mengapresiasi Operasi Ketupat 2026. Perencanaan ilmiah dan kepemimpinan Kakorlantas Polri hasilkan kepuasan publik hingga 93 persen.
Transportasi Media - Pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 mendapat apresiasi tinggi dari kalangan akademisi. Guru Besar Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK PTIK), Prof Albertus Wahyurudhanto, menilai operasi tahun ini berjalan sukses berkat perencanaan yang matang dan pemanfaatan teknologi yang optimal.
Menurut Albertus, keberhasilan Korlantas Polri dalam mengelola arus mudik dan balik tidak hanya bersandar pada anggaran, tetapi juga kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta pendekatan akademik yang ilmiah.
Albertus menekankan bahwa kekuatan utama Operasi Ketupat 2026 terletak pada aspek perencanaannya. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Korlantas kini menggunakan pendekatan prediktif dengan analisis scientific.
“Perencanaannya tidak sekadar cara bertindak (CB) rutin, tetapi menggunakan tools akademik. Di era sekarang, teknologi sangat mendukung hal tersebut,” ujar Albertus.
Selain faktor teknis, kepemimpinan Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho turut menjadi sorotan. Albertus menilai Kakorlantas berhasil mengoordinasikan berbagai instansi lintas sektor, seperti Dinas Perhubungan dan sektor pariwisata, sehingga rekayasa lalu lintas berjalan serempak dan optimal.
Data hasil penelitian bersama Ikatan Doktor Ilmu Kepolisian Indonesia menunjukkan angka yang impresif. Tingkat penerimaan publik terhadap kebijakan lalu lintas selama Operasi Ketupat 2026 mencapai 93 persen.
“Biasanya masyarakat cenderung mengeluh, namun kali ini justru apresiasinya sangat tinggi. Hanya sekitar 7 persen yang tidak setuju, dan itu akan kami teliti lebih lanjut,” ungkap Albertus.
Tingginya angka persetujuan ini menjadi indikator kuat bahwa tata kelola pemerintahan (good governance) di tubuh Polri telah berjalan dengan baik. Albertus menambahkan bahwa publik memberikan dukungan penuh jika kebijakan serupa diterapkan kembali di masa mendatang. (*)
