Transportasimedia.com| Industri penerbangan global tengah berada dalam tekanan berat seiring melonjaknya harga bahan bakar pesawat (avtur) akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak Februari 2026 telah mendorong harga minyak dunia meroket, yang secara langsung memukul biaya operasional maskapai.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga avtur dilaporkan melonjak hingga kisaran USD150–200 per barel atau setara Rp2,5–3,4 juta. Data dari International Air Transport Association (IATA) bahkan mencatat harga jet fuel sempat menyentuh US$197 per barel pada Maret lalu—naik tajam dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini membuat biaya bahan bakar menyumbang hingga seperempat total pengeluaran operasional maskapai.
Kenaikan biaya tersebut memaksa sejumlah maskapai dunia mengambil langkah strategis, mulai dari menaikkan harga tiket, menambah biaya tambahan (fuel surcharge), hingga memangkas kapasitas penerbangan demi menjaga keberlanjutan bisnis.
Sejumlah maskapai besar tercatat telah melakukan penyesuaian tarif dengan besaran yang bervariasi. Maskapai asal Yunani, Aegean Airlines, bahkan menangguhkan sejumlah rute ke Timur Tengah karena alasan keselamatan, yang berdampak pada penurunan pendapatan.
Dari Asia, AirAsia X menaikkan tarif hingga 20 persen sekaligus memangkas 10 persen frekuensi penerbangan. Sementara itu, grup Air France-KLM berencana menambah biaya sekitar 50 euro untuk penerbangan jarak jauh pulang-pergi.
Maskapai Air India juga tengah mengkaji ulang biaya tambahan bahan bakar karena tarif saat ini dinilai belum mampu menutup lonjakan harga avtur. Langkah serupa diambil Air New Zealand yang menaikkan tarif dan memangkas penerbangan pada periode April hingga Juni 2026.
Di kawasan Asia lainnya, Cathay Pacific menaikkan fuel surcharge hingga 34 persen untuk seluruh rute sejak awal April. Maskapai ini menyebut gejolak di Timur Tengah memberikan tekanan signifikan terhadap industri penerbangan global.
Maskapai India Akasa Air menetapkan biaya tambahan bahan bakar antara 199 hingga 1.300 rupee, sementara China Eastern Airlines mengenakan surcharge hingga 120 yuan tergantung jarak tempuh.
Di Amerika Serikat, sejumlah maskapai memilih strategi berbeda dengan menaikkan biaya bagasi. Alaska Airlines dan American Airlines sama-sama menambah tarif bagasi untuk meningkatkan pendapatan, diikuti Delta Air Lines yang juga memangkas kapasitas penerbangan hingga 3,5 persen.
Sementara itu, maskapai lain seperti Cebu Pacific menyatakan masih memantau kondisi sebelum mengambil keputusan lanjutan terkait harga tiket.
CEO AirAsia, Tony Fernandes, menegaskan bahwa kenaikan harga tiket tidak dapat dihindari. “Harga tiket harus naik; tidak ada cara lain. Namun kami akan berupaya agar kenaikannya tetap lebih rendah dibandingkan maskapai lain,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik dapat merambat luas hingga ke sektor transportasi global. Dengan harga bahan bakar yang belum menunjukkan tanda-tanda stabil, penumpang pun harus bersiap menghadapi tiket pesawat yang semakin mahal, terutama untuk rute jarak jauh dan internasional.
