Transportasi Indonesia | Senior Director Oil, Gas, Petrochemical Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Wiko Migantoro, mengungkapkan bahwa impor minyak mentah Indonesia saat ini sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah dan Afrika. Hal tersebut ia ungkapkan dalam acara Rembuk Energi & Hilirisasi 2025, dikutip pada Senin (12/01/2026).
Wiko menyampaikan bahwa perusahaan di bawah Danantara Asset Management, yakni Pertamina, masih mengandalkan pasokan minyak mentah dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan operasional kilang. “Kebanyakan saat-saat sekarang ini perusahaan yang berada di bawah Danantara Asset Management yaitu Pertamina melakukan importasi crude itu dari kebanyakan negara Afrika dan Middle East,” ujar Wiko.
Ia menjelaskan bahwa impor minyak mentah dilakukan karena pasokan bahan baku dari produksi nasional belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan kilang dalam negeri. Kondisi ini membuat impor tetap menjadi bagian dari rantai pasok energi nasional.
Saat ini, volume minyak mentah yang diproses di kilang Pertamina mencapai sekitar 1 juta barel per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 50.000 barel digunakan untuk kebutuhan internal, sementara sekitar 855.000 barel per hari diolah menjadi produk bahan bakar minyak (BBM).
Selain minyak mentah, Indonesia juga masih bergantung pada impor produk BBM, khususnya untuk jenis bensin seperti Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo. Ketergantungan terhadap impor tidak hanya terjadi pada BBM, tetapi juga pada Liquefied Petroleum Gas (LPG).
- Baca Juga Indonesia Menuju Surplus Solar
Wiko mengungkapkan bahwa kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 8 juta metrik ton per tahun. Dari total kebutuhan tersebut, sekitar 6 juta metrik ton masih dipenuhi melalui impor. “Konsumsi LPG di negara kita setahun itu 8 juta metrik ton dan sekarang ini kita mengimpornya 6 juta metrik ton dari luar negeri. Inilah kondisi yang ada di negara kita sekarang ini,” katanya.