Cerita di Balik Ketahanan BBM Nasional

Cerita di Balik Ketahanan BBM Nasional
SPBU Pertamina.

Transportasi Indonesia | Di sebuah ruang konferensi di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, deretan angka tentang stok energi disusun rapi di layar presentasi. Angka-angka itu tidak berdiri sendiri. Di baliknya, ada kerja panjang, koordinasi lintas lembaga, dan upaya menjaga agar kehidupan sehari-hari tetap berjalan tanpa gangguan. Di hadapan awak media, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan satu pesan utama: kesiapan stok bahan bakar minyak nasional berada dalam kondisi aman. Pernyataan itu ia sampaikan dalam Konferensi Pers Kesiapan Sektor ESDM Menghadapi Periode Hari Raya Natal Tahun 2025 dan Tahun Baru 2026, dikutip pada Selasa (20/01/2026).

Bagi Bahlil, ketahanan BBM bukan sekadar deretan cadangan dalam satuan hari atau kiloliter. Ia berbicara tentang sebuah sistem yang harus terus bergerak, dari kilang hingga ke titik konsumsi. Menurutnya, kondisi pasokan saat ini mencerminkan koordinasi yang berjalan antara pemerintah dan para pemangku kepentingan. Di sana ada Pertamina dengan jaringan distribusinya, BPH Migas dengan fungsi pengawasannya, serta jajaran Kementerian ESDM yang memastikan seluruh proses berada dalam koridor kebijakan.

“Untuk bensin ini menunjukkan kerja apik dari tim, dalam hal ini Pertamina, BPH Migas maupun dari ESDM dalam mengawal. Kita tidak ingin saudara-saudara kita yang menjalankan natalan tahun baru itu terjadi pertanyaan apakah ada bensin atau tidak,” ujarnya.

Di balik pernyataan tersebut, tersimpan perhatian pada detail teknis yang menjadi fondasi ketahanan energi. Bahlil kemudian menguraikan kondisi stok Pertalite (RON 90) bersubsidi. Ia menjelaskan bahwa cadangan nasional saat ini berada di atas batas minimum yang telah ditetapkan pemerintah, sebuah ambang yang menjadi penanda kesiapan pasokan dalam situasi mobilitas tinggi.

“Pertalite untuk RON 90 yang subsidi Alhamdulillah itu di atas cadangan minimum nasional 19 hari. Cadangan minimum kita kurang lebih sekitar 17–18 hari, ini kita di atas cadangan nasional, 19 hari,” ujar Bahlil.

Cerita tentang ketahanan itu berlanjut ke segmen BBM non-subsidi. Angka-angka kembali berbicara. Pertamax (RON 92) tercatat memiliki ketahanan lebih dari 23 hari. Sementara itu, Pertamax Green dan Pertamax Turbo (RON 95) menunjukkan ketahanan di atas 31 hari. Data tersebut menjadi gambaran bahwa pasokan tidak hanya dijaga di satu titik, melainkan di seluruh spektrum konsumsi.

“Jadi baik yang minyak bensin subsidi maupun non-subsidi Alhamdulillah di atas cadangan nasional,” kata Bahlil.

Namun, narasi energi tidak berhenti pada bensin. Ada solar yang menopang industri dan logistik, ada avtur yang menjaga konektivitas udara, serta kerosene yang masih digunakan di sejumlah wilayah. Bahlil menyebut batas minimum cadangan solar nasional berada di kisaran 18 hari. Untuk solar subsidi, stok berada pada rentang 14–15 hari, sementara solar non-subsidi atau CN 53 tercatat memiliki ketahanan di atas 25 hari.

“Solar CN 53 ini yang non-subsidi, yang biasa dipakai untuk industri, itu di atas 25 hari,” kata Bahlil.

Angka-angka lain menyusul. Stok kerosene tercatat sekitar 36.376 kiloliter dengan ketahanan 27 hari. Avtur mencapai 426.852 kiloliter dengan ketahanan sekitar 29 hari. Di balik angka-angka itu, ada upaya menjaga agar tangki tetap terisi, distribusi tetap bergerak, dan aktivitas masyarakat tidak terhenti. Ketahanan BBM nasional, dalam konteks ini, menjadi kisah tentang sistem yang bekerja dalam senyap, menopang denyut kehidupan tanpa banyak disadari.

#BBM

Index

Berita Lainnya

Index