Transportasi Indonesia | Indonesia masih bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar atau gasoil untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Data Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2024 menunjukkan bahwa impor solar terus terjadi dalam lima tahun terakhir dengan volume yang berfluktuasi dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data tersebut, pada 2019 Indonesia mengimpor solar sebesar 3,87 juta kiloliter (KL). Memasuki 2020, volume impor menurun menjadi 3,18 juta KL seiring dengan melemahnya aktivitas ekonomi nasional. Penurunan ini berkorelasi dengan berkurangnya mobilitas dan kebutuhan energi pada periode tersebut.
Pada 2021, tren impor solar relatif stabil dengan realisasi sebesar 3,19 juta KL. Namun, pada 2022 terjadi peningkatan signifikan, ketika volume impor solar mencapai 5,27 juta KL. Angka ini menjadi level impor tertinggi dalam lima tahun terakhir berdasarkan data yang tersedia.
Impor solar pada 2023 masih berada pada tingkat tinggi, yakni sebesar 5,14 juta KL. Sementara itu, pada 2024 volume impor tercatat menurun menjadi 4,24 juta KL, meskipun masih lebih tinggi dibandingkan periode 2019 hingga 2021.
Secara keseluruhan, data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia belum terlepas dari ketergantungan terhadap impor solar dalam beberapa tahun terakhir. Fluktuasi volume impor mencerminkan dinamika kebutuhan energi nasional, kondisi perekonomian, serta berbagai upaya pemerintah dalam mengendalikan ketergantungan impor melalui kebijakan energi dan pemanfaatan sumber energi alternatif.
- Baca Juga Indonesia Menuju Surplus Solar