Pertamina Ungkap Jurus Jaga Pasokan BBM di Tengah Konflik Internasional

Pertamina Ungkap Jurus Jaga Pasokan BBM di Tengah Konflik Internasional
Melalui strategi ini, Pertamina optimistis mampu menjaga stabilitas pasokan energi nasional sekaligus mendukung transisi energi berkelanjutan di tengah ketidakpastian global. (Dok. Transportasi Media)

Pertamina menyiapkan strategi menjaga ketahanan energi nasional di tengah konflik global dengan memperkuat stok, produksi, dan transisi energi rendah karbon.

Transportasi Media - PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang kian memanas. Ketegangan internasional, termasuk konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, dinilai berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dunia.

Dalam diskusi bertajuk Indonesia Energy Outlook in The Midst of Global Politic Dynamics di Jakarta, Jumat (10/4/2026), SVP Policy Advocacy and Government Alignment Pertamina, Wianda Arinindita Pusponegoro, menyampaikan bahwa perusahaan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memastikan ketersediaan energi tetap aman.

 

 

Pertama, Pertamina memastikan stok energi nasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM), berada dalam kondisi aman guna mengantisipasi potensi gangguan pasokan global. Selain itu, perusahaan menjaga seluruh operasional dan infrastruktur energi tetap optimal, termasuk terminal BBM dan LPG agar distribusi berjalan lancar.

Langkah berikutnya adalah penerapan efisiensi biaya secara disiplin. Kebijakan ini bertujuan memastikan alokasi anggaran tepat sasaran, terutama untuk sektor kritikal yang menopang distribusi energi nasional.

Di sektor hulu, Pertamina terus mendorong peningkatan produksi. Saat ini, produksi perusahaan telah mencapai sekitar 1 juta barrel oil equivalent per day (BOEPD). Peningkatan tersebut didukung oleh akselerasi pengeboran, penerapan teknologi enhanced oil recovery, serta pengembangan energi panas bumi.

Tak hanya itu, Pertamina juga mempercepat transisi menuju energi rendah karbon. Perusahaan mengembangkan bisnis geothermal yang kini menghasilkan hampir 3.700 megawatt listrik. Di sisi lain, kolaborasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dilakukan untuk pengembangan bioethanol dan peningkatan pemanfaatan biodiesel berbasis FAME.

Wianda menegaskan, strategi tersebut merupakan bagian dari pendekatan dual growth, yakni menjaga peran energi fosil sebagai tulang punggung sekaligus mendorong pengembangan energi bersih secara bertahap. "Energi fosil masih menjadi andalan, namun kami juga terus mengembangkan energi rendah karbon untuk masa depan,” imbuhnya. (*)

#Pertamina

Index

Berita Lainnya

Index