Lonjakan Penumpang MRT, Rute Dukuh Atas–Blok M Paling Diburu

Lonjakan Penumpang MRT, Rute Dukuh Atas–Blok M Paling Diburu
Dok Istimewa

Transportasimedia.com| Lonjakan jumlah penumpang PT MRT Jakarta (Perseroda) pada Maret 2026 menegaskan peran vital koridor MRT Jakarta sebagai tulang punggung mobilitas perkotaan. Tak sekadar melampaui target, tren ini juga memperlihatkan semakin kuatnya preferensi masyarakat terhadap rute andalan, khususnya relasi Stasiun Dukuh Atas BNI menuju Stasiun Blok M BCA yang kini menjadi pilihan utama pengguna.

Sepanjang Maret, rata-rata keterangkutan harian mencapai 117.379 pelanggan, melampaui target 112.613 pelanggan. Pada hari kerja, angka ini bahkan menembus 156.868 pelanggan per hari, sementara akhir pekan mencatatkan rata-rata 69.428 pelanggan. Secara total, lebih dari 3,6 juta pelanggan menggunakan layanan MRT Jakarta dalam satu bulan, mencerminkan konsistensi minat masyarakat terhadap transportasi publik yang efisien.

Dominasi Stasiun Dukuh Atas BNI sebagai stasiun tersibuk dengan 649.980 pelanggan tak lepas dari posisinya sebagai simpul integrasi antarmoda terbesar di ibu kota. Kawasan ini menjadi titik temu berbagai moda transportasi, mulai dari KRL, TransJakarta, hingga layanan pengumpan. Sementara itu, Stasiun Blok M BCA yang menempati posisi kedua dengan 463.548 pelanggan, terus menguat sebagai pusat aktivitas urban, mulai dari kawasan bisnis hingga gaya hidup.

"Relasi perjalanan antara kedua stasiun ini tercatat sebagai yang paling diminati, menyumbang 4,37 persen dari total perjalanan," seperti dikutip dalam laman resmi MRT Jakarta, Senin (13/4/2026).

Fenomena ini menunjukkan pola mobilitas yang semakin terarah, di mana kawasan Dukuh Atas berkembang sebagai gerbang transit regional, sementara Blok M menjadi magnet kegiatan masyarakat perkotaan.

Selain kedua stasiun tersebut, tingginya angka pengguna juga terlihat di Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta, Stasiun Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia, serta Stasiun Bendungan Hilir. Kesamaan dari lima stasiun tersibuk ini terletak pada integrasi dengan berbagai moda transportasi serta kedekatannya dengan pusat aktivitas masyarakat.

Peningkatan ini tidak terjadi secara alami semata. PT MRT Jakarta (Perseroda) secara aktif menggandeng berbagai sektor, mulai dari pariwisata, kuliner, hingga pusat perbelanjaan untuk mendorong mobilitas masyarakat. Peran moda pengumpan (feeder) juga signifikan, dengan kontribusi sekitar 25 persen dari total keterangkutan, memperkuat konektivitas dari kawasan hunian menuju stasiun.

Dari sisi operasional, penyesuaian jam layanan akhir pekan sejak Mei 2023 menjadi pukul 05.00 hingga 24.00 turut memberi ruang lebih luas bagi mobilitas masyarakat, terutama saat berlangsungnya berbagai acara besar di sepanjang jalur MRT. Fleksibilitas ini memperkuat posisi MRT sebagai pilihan utama, tidak hanya untuk kebutuhan kerja, tetapi juga aktivitas rekreasi.

Di tengah tren digital, inovasi layanan juga terus dikembangkan. Melalui aplikasi MyMRTJ, pengguna dapat membeli tiket, mengakses promo, hingga menikmati fitur hiburan. Kemudahan transaksi diperluas dengan kehadiran tiket QR, mesin top up, hingga perangkat mobile petugas di stasiun untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.

Dengan kombinasi integrasi, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor, MRT Jakarta kian mengukuhkan diri sebagai solusi mobilitas modern. Popularitas rute Dukuh Atas–Blok M bukan sekadar angka, melainkan cerminan perubahan gaya hidup masyarakat urban yang semakin beralih ke transportasi publik yang cepat, terhubung, dan berkelanjutan.

#MRT

Index

Berita Lainnya

Index