Isi BBM Malam Hari Lebih Untung? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Isi BBM Malam Hari Lebih Untung? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Fuel meter.

Transportasi Indonesia | Dosen Teknik Mesin dan Biosistem Institut Pertanian Bogor (IPB), Leopold Oscar Nelwan mengungkapkan bahwa anggapan membeli bahan bakar minyak (BBM) pada malam hari lebih menguntungkan dibanding siang hari tidak sepenuhnya keliru, namun dampaknya sangat kecil dan tidak signifikan dalam penggunaan sehari-hari. Hal tersebut ia ungkapkan dalam penjelasan ilmiah yang dimuat di laman resmi IPB, dikutip pada Rabu (11/02/2026).

Leopold menjelaskan bahwa persepsi isi BBM malam hari lebih untung berkaitan dengan sifat fisika BBM seperti bensin dan solar yang mengalami pemuaian ketika suhu meningkat. Pemuaian menyebabkan volume BBM bertambah, sementara massa dan kandungan energi totalnya tetap.

"Perbedaan tersebut memang ada. Hanya saja sangat kecil dan tidak signifikan dalam praktik penggunaan kendaraan sehari-hari," jelas Leopold.

Ia menerangkan bahwa pemuaian merupakan sifat alami fluida. Ketika suhu meningkat, volume BBM bertambah, tetapi jumlah energi yang terkandung di dalamnya tidak berubah.

"Secara fisika, ini adalah sifat alami fluida. Ketika suhu naik, volumenya bertambah, tetapi jumlah energinya tidak berubah," jelasnya.

Besarnya pemuaian BBM dapat dihitung melalui koefisien muai volumetrik. Untuk bensin, koefisiennya berada pada kisaran 0,00095 hingga 0,0011 per derajat Celsius, sedangkan solar berkisar antara 0,0007 hingga 0,0009 per derajat Celsius. Sistem penjualan BBM di Indonesia berbasis volume (liter), bukan massa, sehingga secara teoritis suhu dapat memengaruhi volume BBM yang diterima konsumen.

Namun demikian, pada praktiknya dampak suhu terhadap volume BBM relatif kecil. Pada rantai pasok di hulu, volume BBM umumnya telah dikoreksi pada suhu standar 15 derajat Celsius. Di tingkat hilir atau konsumen, koreksi suhu belum menjadi kewajiban, sehingga pada volume yang sama dapat terjadi perbedaan massa dan kandungan energi jika suhu BBM berbeda.

Leopold menilai perbedaan suhu BBM antara siang dan malam hari tidak terlalu besar karena tangki penyimpanan BBM dirancang dengan sistem insulasi tertentu. Sebagai ilustrasi, pengisian 40 liter bensin pada siang hari dengan suhu sekitar 2–3 derajat Celsius lebih tinggi dibanding malam hari, dengan koefisien muai sekitar 0,001 per derajat Celsius, menghasilkan perbedaan volume kurang dari 0,1 liter.

"Untuk solar, selisihnya bahkan lebih kecil lagi," tegasnya.

Dalam praktik berkendara, perbedaan tersebut setara dengan beberapa kilometer jarak tempuh dan sangat dipengaruhi oleh faktor lain seperti gaya mengemudi, kondisi lalu lintas, tekanan ban, serta kondisi kendaraan. Oleh karena itu, ia menyarankan masyarakat tidak perlu secara khusus memilih waktu malam hari untuk mengisi BBM.

"Kalau sengaja keluar malam hari hanya untuk mengisi bensin dengan jarak beberapa kilometer, bisa jadi justru BBM yang terpakai lebih banyak," terangnya.

Leopold menekankan bahwa efisiensi BBM lebih dipengaruhi oleh kondisi kendaraan dan pola berkendara dibanding perbedaan suhu saat pengisian. Penjualan BBM berbasis liter merupakan kesepakatan praktis, dan meskipun secara fisika kandungan energi per liter dapat sedikit berubah akibat suhu, perbedaan tersebut bersifat alami dan sangat kecil dalam penggunaan sehari-hari.

#BBM

Index

Berita Lainnya

Index